Sejarah dan Asal Usul Nama Indonesia


 Sejarah Asal Nama Indonesia

Peta Hindia - Belanda (Indonesia)
Sejarah nama Indonesia menurut wikipedia muncul pada masa penjajahan India-Belanda, nama Indonesia pertama kali digunakan oleh dua orang Inggris, yaitu George Samuel Windsor Earl yang merupakan seorang pengacara kelahiran London dan James Richardson Logan, seorang pengacara kelahiran Scotlandia. Cuplikan dari wikipedia yang di mulai dari Sejarah nama Indonesia, Nama Indonesia, dan Politik menjelaskan secara rinci tentang asal mula nama indonesia. Memang tidak banyak orang yang peduli dengan asal nama Indonesia, kecuali mereka yang memang benar-benar ingin tahu tentang sejarah awal mula nama Indonesia. Kita berharap semua orang tahu sejarah dan bagaimana kata Indonesia bisa muncul dan di patenkan sebagai nama Republik Indodesia sekarang ini.
Catatan masa lalu menyebut kepulauan di antara Indocina dan Australia dengan aneka nama. Kronik-kronik bangsa Tionghoa menyebut kawasan ini sebagai Nan-hai ("Kepulauan Laut Selatan").
Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara ("Kepulauan Tanah Seberang"), nama yang diturunkan dari kata Sansekertadwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa ("Pulau Emas", diperkirakan Pulau Sumatera sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut wilayah kepulauan itu sebagai Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan, benzoe, berasal dari nama bahasa Arab, luban jawi ("kemenyan Jawa"), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "orang Jawa" oleh orang Arab, termasuk untuk orang Indonesia dari luar Jawa sekali pun. Dalam bahasa Arab juga dikenal nama-nama Samathrah (Sumatera), Sholibis (Pulau Sulawesi), dan Sundah (Sunda) yang disebut kulluh Jawi ("semuanya Jawa").
Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari orang Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah Hindia. Jazirah Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang", sementara kepulauan ini memperoleh nama Kepulauan Hindia (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau Hindia Timur (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang kelak juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel Malais).
Unit politik yang berada di bawah jajahan Belanda memiliki nama resmi Nederlandsch-Indie (Hindia-Belanda). Pemerintah pendudukan Jepang1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur) untuk menyebut wilayah taklukannya di kepulauan ini.
Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah memakai nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan Indonesia, yaitu "Insulinde", yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (dalam bahasa Latin "insula" berarti pulau). Nama "Insulinde" ini selanjutnya kurang populer, walau pernah menjadi nama surat kabar dan organisasi pergerakan di awal abad ke-20.
Masa Kedatangan Bangsa Eropa
Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia . Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab , Persia , India , dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah Hindia”. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”. Sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (“Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien”) atau “Hindia Timur” “(Oost
Indie, East Indies , Indes Orientales)” . Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (“Maleische Archipel, Malay Archipelago , l’Archipel Malais”). Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah “Nederlandsch- Indie” (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia – Belanda).
Berbagai Usulan Nama

- Eduard Douwes Dekker
Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde”, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin “insula” berarti pulau).


Eduard Douwes Dekker
Tetapi rupanya nama “Insulinde” ini kurang populer. Bagi orang Bandung , “Insulinde” mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.
Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “ India ”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya.
Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 Lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.
Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari “Jawadwipa”( Pulau Jawa).
Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, “”Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” “(Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis.
Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern.
Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda. Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia . Kini akan kita telusuri dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.

-  James Richardson Logan
Majalah ilmiah tahunan, “Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia “ (JIAEA).
Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, “Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia “ (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865),menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.
James Richardson Logan
Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel “On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations”. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (“a distinctive name”), sebab nama Hindia Tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: “Indunesia”atau “Malayunesia” (“nesos” dalam bahasa Yunani berarti Pulau).
Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: “… the inhabitants of the Indian Archipelago or malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.”
Earl sendiri menyatakan memilih nama “Malayunesia” (Kepulauan Melayu) daripada “Indunesia” (Kepulauan Hindia), sebab “Malayunesia” sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan “Indunesia” bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah “Malayunesia” dan tidak memakai istilah “Indunesia”. Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel “The Ethnology of the Indian Archipelago. “ Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanahair kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama “Indunesia” yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.
Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan : “Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia , which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. “ Ketika mengusulkan nama “ Indonesia ” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!
Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “ Indonesia ” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku “Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel” sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880.
Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam “Encyclopedie van Nederlandsch-Indie”tahun 1918.
Padahal Bastian mengambil istilah “ Indonesia ” itu dari tulisan-tulisan Logan. Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “ Indonesia ” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama “Indonesische Pers-bureau. “

Ki Hajar Dewantara

Perkembangan
Pada dasawarsa 1920-an, nama “ Indonesia ” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “ Indonesia ” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu. Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa “Handels Hoogeschool” (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam , organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama “Indische Vereeniging” ) berubah nama menjadi “Indonesische Vereeniging” atau Perhimpoenan Indonesia . Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.
Bung Hatta
Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (“de toekomstige vrije Indonesische staat”) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli.

Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (“een politiek doel”), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (“Indonesier”) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya. “ Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan “Indonesische Studie Club”pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 “Jong Islamieten Bond” membentuk kepanduan “Nationaal Indonesische Padvinderij” (Natipij).
Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama “ Indonesia ”. Akhirnya nama “ Indonesia ” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda. Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota “Volksraad” (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardji Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch- Indie”.
Kongres Pemuda
Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah. Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia Belanda” untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, lahirlah Republik Indonesia.

(Dikutip dari tugas mata kuliah Eksebisi oleh Fiki Yuandana)
Refrensi: Wikipedia 
              Yudhim Blogspot 
              Pendidikan Pesantren Blogspot 
              lenteratimur.com 
              pikiran-rakyat.com 
              batarahutagalung.blogspot.com
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Sejarah dan Asal Usul Pulau Lombok


 Pulau Lombok luasnya sepertiga dari luas Pulau Sumbawa. Namun, penduduk Nusa Tenggara Barat yang berjumlah lebih dari tiga juta, dua pertiganya tinggal di Pulau Lombok. Hal ini terjadi karena Pulau Lombok lebih subur dari Pulau Sumbawa. Penduduk Pulau Lombok adalah orang Sasak. Mereka sebagian besar memeluk agama Islam.
 
Lombok dan Sasak adalah dua nama yang tidak bisa dipisahkan. Nama Lombok untuk sebutan pulaunya, nama Sasak untuk sebutan suku bangsanya. Lombok berasal dari bahasa Sasak; “lombo,” artinya “lurus”. Sasak sebenarnya berasal dari “sak-sak” yang artinya “perahu bercadik”.

Namun, banyak orang yang salah mengerti. Lombok diartikan “cabe” sehingga ada yang mengartikan pulau Lombok sebagai “pulau pedas”. Padahal cabe dalam bahasa Sasak adalah “sebia” (dibaca “sebie”)
 [ Sejarah Asal Usul Nama Lombok | Cerita Rakyat Suku Sasak Lombok ]
Cerita di bawah ini akan menjelaskan asal usul mengapa disebut Lombok dan Sasak. Nama Lombok dalam berbagai cerita lisan maupun tertulis dalam takepan lontar adalah salah satu nama dari Pulau Lombok. Nama lain yang sering disebut adalah pulau “Meneng” yang berarti “sepi”. Ada yang menyebut “Gumi Sasak”, ada yang menyebut “Gumi (bumi) Selaparang”, sesuai dengan nama salah satu kerajaan yang terkenal di Lombok pada zaman dulu, yaitu kerajaan Selaparang.
  [ Sejarah Asal Usul Nama Lombok | Cerita Rakyat Suku Sasak Lombok ]
Pulau Lombok sejak zaman kerajaan Majapahit sudah terkenal. Hal ini terbukti dengan disebutnya dalam buku Negarakertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca. Negarakertagama ditemukan juga di Lombok.
Legenda masyarakat Sasak menceritakan bahwa pada zaman dahulu kala, kerajaan Mataram Lama di Jawa Tengah dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Pramudawardhani yang kawin dengan Rakai Pikatan. Konon sang Permaisuri adalah seorang ahli pemerintahan, sedangkan sang suami ahli peperangan. Kekuasaannya ke barat sampai ke Pulau Sumatra, ke timur sampai ke Pulau Flores. Ketika itulah banyak rakyat Mataram pergi berlayar ke arah timur melalui Laut Jawa menggunakan perahu bercadik.
  [ Sejarah Asal Usul Nama Lombok | Cerita Rakyat Suku Sasak Lombok ]
Tujuan mereka berlayar tidak diketahui secara pasti. Apakah untuk memperluas kekuasaan atau menghindari kerja berat, karena pada saat itu Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Kalasan sedang dibangun oleh sang raja.

Demikianlah mereka berlayar lurus ke timur dan mendarat di sebuah pelabuhan. Pelabuhan itu diberi nama Lomboq (lurus), untuk mengenang perjalanan panjang.

Mereka lurus ke timur tersebut. Selanjutnya, Lomboq kini tidak hanya menjadi nama pelabuhan tempat perahu itu mendarat, tetapi juga menjadi nama pulau Lomboq yang kemudian berubah menjadi Lombok. Mereka berlayar menggunakan perahu bercadik yang disebut “sak-sak”, dan jadilah mereka dinamakan orang Sak-Sak Yang berarti orang yang datang menggunakan perahu. Kemudian, mereka membaur dengan penduduk asli. Pada waktu itu, di Pulau Lombok telah ada kerajaan yang disebut kerajaan Kedarao (mungkin sekarang Sembalun dan Sambelia). 
  [ Sejarah Asal Usul Nama Lombok | Cerita Rakyat Suku Sasak Lombok ]
Mereka kemudian mendirikan kerajaan Lombok yang berpusat di Labuhan Lombok sekarang. Kerajaan Lombok menjadi besar, berkembang dalam lima abad, hingga dikenal di seluruh Nusantara, sebagai pelabuhan yang dikunjungi oleh para pedagang dari Tuban, Gresik, Makasar, Banjarmasin, Ternate, Tidore, bahkan Malaka. Jika datang ke Lombok, orang Malaka membeli beras, tarum, dan kayu sepang.

Kerajaan Lombok kemudian dikalahkan oleh kerajaan Majapahit. Raja dan permaisurinya lari ke gunung dan mendirikan kerajaan baru Yang diberi nama Watuparang yang kemudian terkenal dengan nama kerajaan Selaparang.

Kapan nama Lomboq berubah menjadi Lombok, dan nama Sak-Sak berubah menjadi Sasak tidak diketahui secara pasti. Yang jelas sekarang pulaunya terkenal dengan nama Pulau Lombok dan suku bangsanya terkenal dengan nama suku Sasak. Nama Selaparang Sudah diabadikan menjadi nama sebuah jalan protokol dan nama lapangan terbang di Mataram, ibu kota provinsi Nusa Tenggara Barat.
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Press Release Tugas Akhir


PERSEMBAHAN
[PRESS RELEASE LAPORAN TUGAS AKHIR]

Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalaamu’alaikum, Wr. Wb.

Diawali dengan ungkapan rasa syukur yang tiada hingga kepada Allah SWT [The God of The Gods] atas segala nikmat, karunia, dan cahaya hidayah-Nya. Tak lupa, sholawat serta salam yang tiada terbendung saya curahkan kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad SAW [The Latest of The Last Prophets]. Dan tak pernah terlupakan rasa terima kasih nan agung dari lubuk hati yang paling dalam kepada Ibu, Bapak, adik-adik, semua keluarga, dan sahabat-sahabat saya yang tiada henti siang-malam gelap-terang memberi do’a dan api semangat nan tulus kepada saya. I’m so lucky to have you!

Hormat terdalam dan terima kasih seluas semesta atas letupan doktrin Ibu/Bapak dosen yang selama ini menggodok paradigma saya menjadi lebih matang dan sedikit ‘nakal’. Terima kasih yang paling indah untuk Yulianingsih yang selalu setia memahat jiwa dan raga saya menjadi prasasti yang lebih indah, yang tanpa jeda mendampingi ‘kenakalan’ dan candaan absurd saya selama di Jogjafornia. Tak ketinggalan, rasa terima kasih terliar untuk teman-teman kelas dan seluruh keluarga Prodi Kearsipan, rupa dan candaan absurd kalian mustahil saya lupakan. Ini Prodi paling gagah se-nusantara! Bagi saya, kalian telah memberi banyak pelajaran tentang arti hidup dan indahnya kebersamaan melebihi yang saya tahu. Sepandai-pandaiku merangkai kata namun itu tak akan bisa menceritakan kisah kita kembali. Ku harap dunia tak seluas ini agar aku mudah menemukan kalian. The days to remember! We’re fu#kin’ great family!

Juga, salam terhangat untuk Pak Hastono, Pak Katidjo, Pak Sumbul, Pak Rajendra, Bu Pur, dan seluruh staf STPP Yogyakarta atas kebaikan, keramahan, dan keceriaannya. Terima kasih juga untuk setiap minuman/makanan dan camilan yang tanpa jeda disuguhkan dengan tulus kepada kami. Everything is worth! This is the best rock ‘n roll place for PKL!

Setelah sekian lama berproses, ternyata waktu terasa begitu cepat dan singkat. Dihajar waktu- dikepung ritme hidup, membuat saya tiba di sebuah persimpangan pilihan. Apakah saya harus menempuh perjalanan sampai di sini saja ataukah saya akan memasuki hidup baru dengan perjuangan dan tantangan yang lebih besar, dengan target pembelajaran yang juga lebih besar?. Untuk saat ini, saya bersyukur LTA ini selesai, paling tidak dengan ini keluarga saya bisa tersenyum manis. Dan ini semua saya persembahkan khusus untuk mereka, lebih khusus lagi kepada kedua orang tua saya [The Greatest Parents], karena dengan letupan api cinta merekalah LTA ini terselesaikan. Mereka yang telah berkorban dengan kasih nan tulus membanting-tulang, memeras darah, keringat, dan air mata demi hidup dan menghidupkan saya. I love them beyond the lifetime, even beyond forever! Keluarga merupakan  energi pelatuk terbesar yang menyinari proses kedewasaan saya belakangan ini hingga LTA ini selesai ditulis. Sejak melepas lakon sebagai anak SMA, saya mulai berevolusi dengan alot, bertempur dengan ganasnya kedewasaan, mencoba mendefinisikan arti hidup dari berbagai macam aspek dan perspektif. Semakin saya tahu, semakin banyak yang belum diketahui. Semakin belajar, semakin banyak pula yang perlu dipelajari. Mungkin dunia yang absurd ini memang butuh pengorbanan dan perjuangan yang juga absurd.

Ketika malas datang, disaat sulit menghujam. Tanpa kenal waktu, siang-malam, sakit dan lelah. Perlahan kita mencoba menyalakan mesin, menorehkan kata dan imajinasi, menulis laporan bertintakan keringat dan api semangat untuk menemukan kembali alasan kenapa kita harus mampu menyelesaikan kewajiban yang satu ini.

Untuk integritas yang selama ini terabaikan, untuk jiwa yang selama ini hilang dan tenggelam. Meski berat dan tanpa ampun. Dengan harapan setinggi matahari dan kerja keras tiada henti, akhirnya saya dan teman-teman berhasil menyelesaikan salah satu mimpi agung yang selama ini kita kejar yaitu laporan tugas akhir. Bak Begawan yang memegang bara api yang begitu panas demi keluar dari goa yang begitu gelap nan sunyi. Kalian memang mesin pelumas yang licin! You can if you think you can!

Tersirat harapan besar dalam karangan ‘fiksi nyata’ ini, semoga bisa menjadi sumbangan pemikiran dan cambuk kesadaran. Dimana nantinya mata hati orang-orang maupun instansi-instansi di Republik ini menaruh peduli dan bersikap lebih baik dalam mengapresiasi dunia kearsipan. Dan saya yakin, semua ini merupakan awal dari sebuah kebangkitan dan tantangan yang lebih besar. Dengan kearsipan kita buktikan, bahwa Indonesia adalah negara adi yang menjunjung tinggi kearsipan dan sejarah bangsanya. *ambil sisir dan rapikan rambut :)*

NB : Untuk tetangga-tetangga saya, Pak RT, Pak Kadus, dan Pak Kades yang lupa saya sebut diatas. Maaf ya!*Haha… sinting!*

“....Kalau sekiranya pohon-pohon di muka bumi ini menjadi pena dan laut menjadi tinta, ditambah kemudian dengan tujuh laut lagi, niscaya tiada habis kalimat Allah dituliskan. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” ~ (Q.S. Al-Luqman : 27)

“Di antara kita dan perubahan, ada sebuah tembok bernama ‘ketidakpedulian’. Tembok itu akan runtuh jika kita bersama-sama mendobraknya.” ~ @JRX_SID

“Begitu banyak manusia yang otaknya penuh dengan ilmu dan pengetahuan, tetapi kebanyakan dari mereka hatinya kosong.” ~ @FikiBikuL

Wabillahi Taufiq Wal Hidayah
Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.

LIVE THE LIFE AND CHEERS!!!
-FIKI ROCK-

Jogjafornia, Awal Februari 2013
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati