(Misteri yang tak kunjung habis dibahas)
Setelah Soekarno berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia beliau berupaya mempersatukan nusantara. Setelah itu Soekarno menerbitkan Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) yang kontroversial itu kepada Letnan Jenderal Soeharto akan tetapi Supersemar tersebut disalahgunakan oleh Letnan Jenderal Soeharto untuk merongrong kewibawaannya dengan jalan menuduhnya ikut mendalangi Gerakan 30 September. Tuduhan itu menyebabkan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara yang anggotanya telah diganti dengan orang yang pro Soeharto, mengalihkan kepresidenan kepada Soeharto. Masa-masa kejatuhan Soekarno sebenarnya dimulai sejak ia "bercerai" dengan Wakil Presiden Moh. Hatta pada tahun 1956, akibat pengunduran diri Hatta dari kancah perpolitikan Indonesia. Ditambah dengan sejumlah pemberontakan separatis yang terjadi di seluruh pelosok Indonesia, dan puncaknya ialah pada saat pemberontakan G 30 S / PKI, hal tersebut membuat Soekarno di dalam masa jabatannya tidak dapat "memenuhi" cita-cita bangsa Indonesia yang makmur dan sejahtera. Setelah mengalami pengucilan oleh suksesornya yang "durhaka" Jenderal Suharto, hidup Soekarno lebih banyak dalam kesakitan. Akhirnya Soekarno pun wafat pada tanggal 21 Juni 1970 di Wisma Yaso, Jakarta. Jenazahnya dikebumikan di Kota Blitar, Jawa Timur, dan kini menjadi ikon kota tersebut, karena setiap tahunnya dikunjungi ratusan ribu hingga jutaan wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Terutama pada saat penyelenggaraan Haul Bung Karno.
Apa isi dari supersemar tetap menjadi misteri yang penuh simir karena dokumennya sendri terdiri berbagai versi, setelah G 30 S PKI mahasiswa menjamu bung karno, MPRS menolak mengaksara dan memepereteli kekuasaan bung Karno sebagai pemimpin besar revolusi, militer dan sipil anti PKI mengucilkannya seorang diri seperti kesakitan yang layak untuk dicurigai, jadilah supersemar sebuah damarkasi anatara orde lama dan orde baru yang menandai berakhirnya dualisme kepemimpinan anatara bung Karno dan pak Harto, damarkasi yang berniat mengkoleksi dan membersihkan sejarah dari anarkisme tapi teks sejarah mudah terbalik, dua dekade kemudian saat pak harto di puncak kekuasaanya supersemar kerap dilesetkan sebagai singkatan “sudah persis seperti marcos” kita juga belajar banyak hal dari historika teks pancasila dan proklamasi, pendiri bangsa kita memberi contoh hakiki kepentingan golongan kepentingan politik bukanlah apa-apa dibandingkan demi ibu pertiwi, inilah sajian tentang selembar dua lembar kertas lawas tentunya tak sebanding dengan ribuan dokumen mafia pajak dan sekandal century yang mudah menjadi politisasi.
Sumber :
Mata najwa, Metro TV
Tags:
Pengetahuan Umum











Leave a comment